Karya : Gilang Surya Herlambang
Kelas : XI-IPA 2 (SOLID)
Suatu
ketika, ada sebuah kapal yang tenggelam diterjang badai. Semuanya porak
poranda. Tak ada awak yang tersisa, kecuali satu orang yang berhasil
mendapatkan pelampung. Namun nasib baik belum berpihak pada pria ini.
Dia terdampar pada sebuah pulau kecil tak berpenghuni, sendiri, dan tak
punya bekal makanan.
Dia terus berdoa pada Tuhan untuk
menyelamatkan jiwanya. Setiap saat dipandangnya ke penjuru cakrawala,
mengharap ada kapal yang datang merapat. Sayangnya pulau ini terlalu
terpencil, hampir tak ada kapal yang mau melewatinya.
Lama
kemudian, pria ini pun lelah untuk berharap. Lalu untuk menghangatkan
badan, ia membuat perapian sambil mencari kayu dan pelepah nyiur untuk
tempatnya beristirahat. Dibuatnya ruman-rumahan sekedar tempat untuk
melepas lelah. Disusunnya semua nyiur dengan cermat agar bangunan itu
kokoh dan dapat bertahan lama.
Keesokan harinya, pria malang
ini mencari makanan. Dicarinya buah-buahan untuk mengganjal perutnya
yang lapar. Semua pelosok dijelajahi, hingga kemudian ia kembali ke
gubuknya. Namun ia terkejut, semuanya telah hangus terbakar, rata dengan
tanah hampir tak bersisa. Gubuk itu terbakar karena perapian yang lupa
dipadamkannya. Asap membubung tinggi, dan hilanglah semua kerja kerasnya
semalam. Pria ini berteriak marah, "Ya Tuhan, mengapa Kau lakukan ini
padaku. Mengapa?... Mengapa?", teriaknya melengking menyesali nasib.
Tiba-tiba
terdengar peluit yang ditiup. Tuittt...tuuitttt. Ternyata ada sebuah
kapal yang datang. Kapal itu mendekati pantai, dan turunlah beberapa
orang menghampiri pria yang sedang menangisi gubuknya ini. Pria ini
kembali terkejut, ia lalu bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalau
aku ada di sini?
Mereka menjawab, "Kami melihat simbol asapmu!!"
Sahabatku,
sangat mudah memang bagi kita untuk marah saat musibah itu tiba.
Nestapa yang kita terima tampak akan begitu berat saat terjadi dan
berulang-ulang. Kita memang bisa memilih untuk marah, mengumpat, dan
terus mengeluh. Namun teman, agaknya kita tak boleh kehilangan hati
kita. Sebab Tuhan selalu ada pada hati kita walau dalam keadaan yang
paling berat sekalipun.
Sahabatku, ingatlah, saat ada "asap
dan api" yang membubung dan terbakar dalam hatimu, jangan kecil hati.
Jangan sesali semua itu, jangan hilangkan perasaan sabar dalam kalbumu.
Sebab, bisa jadi itu semua adalah sebagai tanda dan simbol bagi orang
lain untuk datang padamu dan mau menolongmu. Sebab untuk semua hal buruk
yang kita pikirkan akan selalu ada jawaban yang menyejukkan dari-Nya.
Tuhan Maha Tahu yang terbaik buat kita. Jangan hilangkan harapan itu,
dan semua pasti indah pada waktunya.

0 comments:
Post a Comment